Senin, 06 Juni 2011

OSI (Open System Interconnection)


Model referensi OSI merupakan model kerangka kerja yang diterima secara global bagi pengembangan standar yang lengkap dan terbuka. Model OSI membantu menciptakan standar terbuka antar system untuk saling berhubungan dan saling berkomunikasi terutama dalam bidang teknologi informasi.
OSI memberikan pandangan yang “abstrak” dari arsitektur jaringan yang dibagi dalam 7 lapisan. Model ini diciptakan berdasarkan sebuah proposal yang dibuat oleh International Standard Organization (ISO) sebagai langkah awal menuju stadarisasi protocol internasional yang digunakan pada berbagai layer. Model ini disebut OSI Reference Model, karena model ini ditujukan untuk interkoneksi Open System. Open System diartikan sebagai suatu sistem yang terbuka untuk berkomunikasi dengan sistem-sistem lain yang berbeda arsitektur maupun Sistem Operasi.
Tujuan OSI
1.     Koordinasi berbagai kegiatan.
2.     Penyimpanan data.
3.     Manajemen sumber dan proses.
4.     Keandalan dan keamanan sistem pendukung perangkat lunak.
5.     Membuat kerangka agar sistem / jaringan yang mengikutinya dapat saling berkomunikasi/ saling bertukar informasi, sehingga tidak tergantung merk dan model peralatan.
6.     3 layer pertama adalah interface antara terminal dan jaringan yang dipakai bersama, 4 layer selanjutnya adalah hubungan antara software.
7.     Antar layer berlainan terdapat interface, layer yang sama terdapat protokol.


 Model referensi OSI secara konseptual terbagi ke dalam 7 lapisan dimana masing-masing lapisan memiliki fungsi jaringan yang spesifik
1.     Physical Layer
2.     Data link Layer
3.     Network Layer
4.     Transport Layer
5.     Session Layer
6.     Presentation Layer
7.     Application Layer
Prinsip-prinsip yang digunakan bagi ketujuh Layer tersebut adalah :
1.     Sebuah Layer harus dibuat bila diperlukan tingkat abstraksi yang berbeda.
2.     Setiap Layer harus memiliki fungsi-fungsi tertentu.
3.     Fungsi layer di bawahnya adalah sebagai pendukung fungsi layer di atasnya.
4.     Fungsi setiap Layer harus dipilih dengan teliti sesuai dengan ketentuan standar protocol internasional.
5.     Batas-batas Layer diusahakan agar meminimalkan aliran informasi yang melewati interface.
6.     Jumlah Layer harus cukup banyak, sehingga fungsi-fungsi yang berbeda tidak perlu disatukan dalam satu Layer diluar keperluannya. Akan tetapi jumlah Layer juga harus diusahakan sesedikit mungkin ehingga arsitektur jaringan tidak menjadi sulit dipakai.